-->

Resensi Novel MAY (Sandi Firly)

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa kabar kawan sekalian, sebangsa setumpah darah dan sebahasa ataupun yang diluar sana?

Selamat menjalani hidup kalian wahai pecinta buku, ahli kitab, atau apapun itu julukan orang yang senang membaca buku. Waduhuh, setelah sekian lama saya tidak upload nih, hehe .. Maklum, saati ini saya sedang punya misi perkuliahan, semoga saya dan kita semua yang sedang kuliah maupun menuntut ilmu dimanapun diberi kemudahan selalu dan dapat mencapai segala asa dan mimpi kita semua. Alhamdulillah Tuhan mengizinkan saya kali ini memposting sebuah resensi sebuah buku lagi nih, buku yang saya ulas kali ini, merupakan salah satu ikarya dari Sandi Firly. Bukunya berjudul May, ya, May, hanya MAY.. Daripada berlama-lama baca intro resensi ini, wkwk, yuk lanjut.



IDENTITAS BUKU

Judul Buku : MAY

Penulis : Sandi Firly

Penyunting : Gita Romadhona

Desain Sampul : @detikakhir 

Proofreader : EnHa

Penata Letak : @amyfahmyamy

Penerbit : Penerbit Kata Depan

Tahun Terbit : 2019 (Cetakan pertama)

Kota Terbit : Depok, Jawa Barat

Tebal Buku : 13 x 19 cm

Jumlah Halaman : vi + 270 halaman

Nomor ISBN : 978-602-5713-96-5

Harga : Rp. 65.000,-

Kategori : Novel


Ulasan Buku

 Saat kamu melihat cover buku ini mungkin akan mengira ini adalah sebuah buku tentang sesuatu yang ada di ‘May’, Mei. Tapi, setelah dilihat lebih jelas, di desain cover, di bagian huruf A, terdapat siluet seoran wanita yang sedang menelungkupkan wajahnya ke lututnya. Saya pikir, mungkin wanita ini ada hubungannya dengan May atau bulan Mei. Dan ternyata, memang benar ada kaitannya.


May, sebuah novel karangan Sandi Firly, merupakan salah satu novel yang berangkat dari peristiwa nyata di Banjarmasin. Jika kamu ketahui tentang kerusuhan yang terjadi pada tahun 98, maka mungkin kau akan sedikit asing dengan peristiwa kerusuhan yang terjadi di Banjarmasin pada tahun 97, tepatnya 23 Mei 1997. 


Jumat, 23 Mei 1997. Masa kampanye partai berkaus kuning berlangsung rusuh-yang menurut berita koran-koran keesokan harinya, dipicu sejumlah simpatisan yang menggeber keras-keras sepeda motor mereka pada saat salat Jumat baru saja usai, yang celakanya motor dilakukan di dekat sebuah masjid terbesar di tengah pasar. Entah siapa ygn memulai, seketika saja merka yang berkaus kuning menjadi buruan. Mereka dihentikan, dipukuli, dilucuti tak peduli perempuan yang bahkan tak mengenakan lapisan baju dalam sekalipun. Ditelanjangi. Barangkali kebencian itu sebuah akumulasi karena partai kaus kuning merupakan representasi dari kekuasaan rezim yang sekian puluh tahung mengangkangi republik negeri itu.


Kin, adalah tokoh utama dalam novel yang dibawakan Sandi. Mulanya, Kin adalah seorang penulis, yang konon gagal karena tulisan romance nya gagal laku di pasaran, meski pun ada yng membeli tulisannya, namun tak seberapa. Ia pun dicap penulis gagal. Menghindari kekalutan itu, Kin pergi ke Banjarmasin untuk mencari sebuah tempat baru, harapannya ia dapt menulis dengan lebih fresh.


Ia tiba di sebuah pelabuhan yang mendaratkan kakinya di kota itu, kota yang menurutnya cukup sunyi. Meski ramai orang lalu-lalang, namun sepi. Di dekat pelabuhan, Kin menemukan sebuah kedai yang tidak terlalu ramai, namun setidaknya cukup untuk menjadi tempat kala ia lapar. Dan di sinilah ia bertemu dengan May, sosok wanita yang tidak terlalu banyak cakap, dan suka sekali membaca buku, terlihat dari kelakuannya yang begitu fokus ketika membaca buku. 


Di kedai ini pula, Kin menetap untuk sementara tinggal.


Kedatangannya kali ini, di kota baru, menghadirkan sejumlah cerita baru untuk Kin. Beberapa hari ia tinggal, ia menyadari beberpa hal. Bahwa, ada pengunjung tetap yang selalu datang saban menjelang dini hari. Mereka berjumlah empat orang, ada pak tua yang kehilangan anak dalam huru-hara, perempuan dewasa istri pengusaha batu bara, pemuda patah hati, dan seorang lelaki yang selalu menutup kepalanya dengan topinya.


Ke empat orang pengunjung setia kedai ini, seolah memiliki kisah mereka masing-masing. Suatu ketika, Kin diberitahu sesuatu tentang mereka. Entah benar atau tidak, apa yang dikatakan oleh May, seolah menjelma jadi bahan bakar Kin untuk menulis. Entah apa yang diberitahukan May, lewat bisik-bisik. Yang pasti, selepas mendengar sedikit cerita dari May, Kin langsung menuliskan kembali di mesin tik yang ia bawa. Tentunya dengan alur cerita yang ia sesuaikan dengan alur pikirannya.


Dan sepertinya, tulisan yang Kin buat bukan lah tentang novel picisan yang memuat kisah-kisah romantis, justru ini jauh dari itu, kelam. Tiap orang yang May dan Kin tuturkan, seolah memiliki keterkaitan satu sama lain, entah hanya spekulasi atau memang begitu kenyataannya. Yang jelas, ketika Kin baru saja selesai menuliskan cerita yang ia tulis, beberapa hari atau jam kemudian, apa yang ia tulis menjadi sebuah kenyataan.


Entah apa penyebabnya, pasti selalu seperti itu. Dalam tulisan resensi lain, katanya sosok May ini justru yang menjadi kunci dari tiap peristiwa yang terjadi. Bisa saja, dia yang mengatur segalanya sesuai dengan apa yang ia ingin. 


Namun yang pasti, pembaca harus jeli dengan penjelasan tiap babnya, karena akan ada korelasinya satu sama lain. Bisa ditandai atau diingat-ingat. Meski begitu, di akhir cerita, pembaca merasakan bahwa cerita ini seperti tidak menmui akhir, justru malah terkesan baru memulai cerita yang sebenarnya. Entah si, mungkin penulis sengaja agar pembaca menerka-nerka tentang apa yang terjadi sebenarnya dan siapa sebenarnya yang menjadi tokoh kunci dalam cerita May ini.


Dan meskipun disangkut pautkan dengan sejarah kelam Banjarmasin, itu hanya seperti pelengkap cerita yang sebenarnya terpusat di kedai yang Kin dan May sering bertemu atau berbincang. Selebihnya cerita ini akan membawa pembaca pada suasana yang cukup menarik perasaan dan kadang membingungkan. Heuheu.

Selamat membaca.

0 Response to "Resensi Novel MAY (Sandi Firly)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel